Kegiatan Konservasi yang Dilakukan Taman Safari Prigen Pasuruan

1. Konservasi Gajah Sumatera

Taman Safari Indonesia sebagai salah satu Lembaga Konservasi Terbaik di Asia telah lebih dari 25 tahun terlibat dalam upaya konservasi gajah, baik secara institusional maupun bekerjasama dengan pemerintah dan lembaga terkait lainnya.

Berikut beberapa kegiatan yang pernah dilakukan oleh Taman safari Indonesia :

a. Tahun 2000 rescue gajah sumatera yang berada di Sampit – Kalimantan Tengah.

     

b. Tahun 2002 rescue anak gajah sumatera dari Riau.

c. Pada tahun 2009 rescue sepasang gajah sumatera dari Inhutani  Semaras  Kotabaru Kalimantan selatan.

     

d. Tahun 1998 bantuan dana & obat-obatan ke Taman Nasional Way Kambas – Lampung.

e. Melakukan operasi Ganesha, yaitu penggiringan gajah liar yang masuk ke pemukiman warga kembali ke hutan. Dalam operasi ini tim berhasil menggiring kurang lebih 232 ekor gajah.

f. Taman Safari Indonesia bekerja sama dengan Departemen Kehutanan dan Australia Zoo melakukan pendataan dan pemasangan microchip pada semua gajah sumatera ( Captive) di indonesia. Pemasangan microchip ini bertujuan untuk memudahkan pendataan dan identifikasi setiap gajah sumatera di lembaga konservasi.

g. Taman Safari bekerjasama dengan Kementrian Kehutanan dan Australia Zoo  membangun RUMAH SAKIT GAJAH pertama yaitu di Taman Nasional  Way Kambas-Lampung . Rumah sakit ini akan menjadi satu-satunya rumah sakit gajah di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara.

Kegiatan lain yang pernah dilakukan TSI :

- Tahun 2000 bantuan renovasi & pengadaan air di Taman Nasional Way Kambas Lampung.

- Tahun  2003 pemberian kursus pertolongan pertama pada penyelamatan satwa liar untuk masyarakat jambi.

- Tahun 2009 renovasi Pusat Konservasi Gajah (PKG) Way Kambas Lampung.

- Tahun 2017 Peresmian Rumah Sakit Gajah terbesar Se – Asia di TN Way Kambas Lampung

2. Konservasi Curik Bali (Bali Mynah)

Curik Bali (Leucopsar rothschildi) pertama kali ditemukan oleh Dr. Baron Stressmann seorang ahli burung berkebangsaan Inggris yaitu pada tanggal 24 Maret 1911 ketika terjadi kerusakan kapal Ekspedisi Malaku II yang mengangkut para biologiawan dan rombongan penelitian. Saat itu populasinya masih banyak.

Curik Bali merupakan satwa endemic pulau Bali (persebarannya hanya di pulau Bali). Satwa ini cukup menarik, bukan hanya warnanya tetapi juga suaranya yang sangat khas. Sehingga banyak orang yang ingin memilikinya/ memelihara satwa tersebut. Selain itu, habitat dari Curik Bali yang ada di alam juga semakin rusak akibat dari ulah manusia yang suka merambah hutan. Sehingga populasi Curik bali dialam saat ini kondisi sangat memprihatinkan, tinggal beberapa ekor saja. Taman Safari Indonesia II sebagai lembaga konservasi eksitu memiliki kewajiban untuk melestarikan satwa-satwa asli Indonesia khususnya satwa liar dilindungi. Sebagai upaya konservasi, Taman Safari Indonesia II juga menangkarkan serta melepasliarkan Curik Bali ke habitat aslinya. Pelepasliaran Curik Bali dilakukan pada tahun 2007 (Daerah Brumbun 28 ekor, Tanjung gelap 20 ekor), 2009 (Daerah Brumbun  20 ekor, Tanjung Kotal 12 ekor), 2010, 2013 (Daerah Lampu Merah 10 ekor),  2015 sebayak 5 kali. Monitoring Curik Bali di tahun ini dilakukan pada tanggal 23 – 30 November berlokasi di Cekik, Labuan Lalang, Menjangan Resort, Lampu Merah dan Teluk Brumbun. Kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) Curik Bali merupakan rutinitas kegiatan yang dilakukan APCB, TSI group dan TNBB.

Tujuan diadakannya monev Curik Bali yaitu untuk mengetahui jumlah populasi Curik Bali yang ada di alam dari hasil pelepasliaran serta didalam kandang penangkaran. Jumlah personil yang terlibat dalam kegiatan monev ini yaitu 12 personil.

Kegiatan monev Curik Bali juga bermanfaat untuk mengetahui makanan alami,sarang alami, perilaku serta faktor-faktor alamiah yang dapat mempengaruhi populasi breeding/ perkembangbiakan Curik Bali yang ada di habitat aslinya.

         

Gambar. Kegiatan Monev Curik Bali

 

Dari kegiatan monitoring dan evaluasi terakhir yang telah kami lakukan (23 Nov – 30 nov 2016) di lima daerah pengamatan dapat disimpulkan bahwa:

a. Jumlah populasi Curik Bali yang ada dihabitat aslinya ditemukan sebanyak 60 ekor

b. Jumlah populasi Curik Bali yang ada di kandang penangkaran 46 ekor

c. Secara umum kondisi populasi Curik Bali mengalami peningkatan, tetapi di satu sisi ada juga yang menurun contohnya di daerah Lampu merah

d. Kondisi gowok yang ditemukan temukan di lapangan pada umumnya kwalitasnya sudah mulai menurun/ usang dan ada juga yang sudah rusak. Tetapi kami juga menemukan 4 sarang alami dari Curik Bali

e. Kondisi habitat : Predator alaminya populasinya semakin banyak, Pesaing makan juga semakin banyak populasinya, Pesaing sarang juga sulit untuk dikendalikan, Pakan alami yang ada di alam juga kurang banyak, terlebih lagi pada saat musim kemarau di beberapa titik daerah sulit air.

 

3. Konservasi Harimau Sumatera

Harimau sumatera merupakan satu – satunya subspecies harimau terakhir yang masih dimilki Indonesia setelah dua kerabatnya yakni Harimau Bali dan Harimau Jawa dinyatakan punah masing – masing pada tahun 1937an dan 1970an.

Dalam menjaga kelangsungan hidupnya, saat ini Harimau sumatera telah mengalami banyak ancaman yang bersumber dari kegiatan manusia yang kemudian mendorong terjadinya konflik antara manusia dengan harimau. Di Pulau Sumatera, konflik manusia – harimau telah menjadi suatu permasalahan untama dalam konservasi harimau, karena dapat menimbulkan kerugian dan jatuhnya korban jiwa, yang akhirnya akan menurunkan dukungan masyarakat terhadap upaya pelestariaanya. Konflik seperti ini juga merupakan salah satu factor yang memicu masyarakat untuk menangkap bahkan membunuh harimau.

- Kegiatan 1. Relokasi Harimau Sumatera yang berkonflik di Aceh

Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan BKSDA untuk merelokasi Harimau Sumatera yang masuk ke Perkebunan warga setempat. Harimau tersebut kemudian ditangkap dan dimasukkan kedalam kandang milik BKSDA setempat. Menerima kabar tersebut, TSI segera mengirimkan Tim untuk merelokasi harimau tersebut. Tim tersebut beraggotakan drh. Bongot (TSI 1) dan drh. Nanang (TSI 2) serta beberapa rekan keeper karnivor. Adapun kegiatannya:

  ===> 

Kondisi Harimau di BKSDA Propinsi Aceh yang akan direlokasi ===> Pemeriksaan fisik harimau Sumatera oleh Tim Medis Taman Safari Indonesia

 

Selanjutnya mereka dilepasliarkan di TN Bukit Barisan Selatan bersama dengan 4 Harimau Sumatera hasil breeding TSI.

 

- Kegiatan 2. Pelepasliaran Harimau Sumatera

Taman Safari Indonesia sebagai Lembaga Konservasi Ex – Situ ditunjuk sebagai tim teknis dilapangan. Salah  satu kegiatan yang telah dilakukan adalah  pelepasliaran empat ekor Harimau Sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Bekerjasama dengan Departemen Kehutanan RI, Artha Graha Peduli dan Pihak – Pihak yang perduli terhadap pelestarian satwa langka ini. Adapun kegiatannya seperti terlihat dalam gambar berikut ini.

     

Gambar. Transport satwa

 

    

Kandang pembelajaran untuk mengembalikan insting berburu, dan pemberian GPS Collar Tracking pada harimau yang sudah siap untuk dilepasliarkan kembali.

    

Pelepasliaran harimau pertama(Pangeran dan Agam) pada 22 – 07 -  2008 Hasil monitoring  pergerakan harimau yang di lepas liarkan smelalui system satelit

 

4. Banteng Rescue & Relocation dan Banteng Semi Ex – Situ Breeding

Banteng (Bos javanicus) merupakan salahs atu satwa endemic dari Pulau Jawa yang saat ini populasinya terus menurun akibat perburuan liar dan kerusakan habitat. Taman safari Indonesia II sebagai salah satu lembaga konservasi di Jawa Timur membatu dalam penyelamatan dan relokasi banteng masuk ke Perkebunan PTPN XII Banyuwangi  dan mengembalikan mereka ke TN Meru Betiri dan TN Baluran pada tahun 2006.

    

Beberapa Banteng kita bawa ke TSI II untuk dilakukan breeding. Karena breeding yang kita lakukan berhasil, kemudian kita kirim 1 jantan – 2 Betina ke TN Baluran untuk dilakukan semi Ex – Situ Breeding. Dengan harapan agar banteng liar yang ada di sekitaran TN Baluran tertarik ke breeding project kita. Saat ini total sudah menghasilkan 2 anakan Banteng.

Gambar. Kandang Breeding Semi Ex-Situ di TN Baluran

 

5. Konservasi Dolphin (Rescue Lumba – Lumba Indo Cina /Sousa chinensis)

Lumba-lumba adalah mamalia laut yang cerdas, lumba-lumba mempunyai penglihatan yang baik di dalam maupun di luar air. Panjang dari lumba-lumba bisa 1,2 m sampai 9 m, besarnya mencapai 40 kg (Maui's dolphin) sampai 10 ton (orca atau paus pembunuh). Makanan utama dari lumba-lumba berupa ikan-ikan kecil dan cumi-cumi. Diseluruh dunia terdapat  kurang lebih 40 spesies lumba-lumba  dan 10 spesies lumba-lumba bisa ditemukan  di perairan Indonesia.

Diantara lumba-lumba tersebut terdapat seekor lumba-lumba yang ditemukan tersesat di Sungai Wampu Desa Hinai Kiri Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Profinsi Sumatera Utara.

Pada hari Sabtu, 7 September 2013 ada salah satu LSM dari Jakarta yang menamakan dirinya Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan dibantu oleh tim Sar Kabupaten Langkat mencoba untuk menyelamatkan lumba-lumba tersebut  dengan cara dijaring, namun proses tersebut  gagal karena di dasar Sungai Wampu banyak terdapat tonggak kayu yang menyebabkan jaring tersangkut dan menyulitkan proses penyelamatan lumba-lumba.

Minggu, 8 September 2013 JAAN yang ditemani oleh tim Sar sekaligus Tagana Kabupaten Langkat Sumatera Utara mencoba menyelamatkan lumba-lumba dengan metode penggiringan. Namun Proses  tersebut juga gagal karena adanya aktifitas penyeberangan perahu (getek) dan penambangan pasir liar yang menggunakan mesin generator membuat lumba-lumba tersebut takut untuk melewati tempat itu.

Akhirnya Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara meminta bantuan kepada Forum Lumba-lumba yang didirikan oleh Kementerian Kehutanan RI dan Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) untuk menangkap atau menggiring lumba-lumba tersebut kembali ke habitat aslinya. Forum Lumba-lumba ini beranggotakan enam lembaga konservasi yang ada di Indonesia, antara lain :

1.   Ocean Dream, Gelanggang Samudra Ancol

2.   Taman Safari Indonesia (Bapak Budi Ariyanto dan Nur Hidayat – TSI II)

3.   Wersut Senguni Indonesia

4.   PT. Melka

5.   Batang Dolphin Center

6.   PT. Piayu

Forum Lumba-lumba ini diketuai oleh Drs. Jansen Manangsang, M. Sc. yang juga Direktur Taman Safari Indonesia. Forum Lumba-lumba ini beralamat di kantor PKBSI  Jl. Harsono RM. 10 Jakarta 12550.

Keterlibatan Forum Lumba-lumba untuk membantu menyelamatkan lumba-lumba yang tersesat ini sesuai dengan salah satu misi dari Forum Lumba-lumba, yaitu Penyelamatan dan pelestarian lumba-lumba di alam habitatnya. Tujuan lain dari Forum Lumba-lumba ini adalah untuk meningkatkan standar pengelolaan lumba-lumba di ex-situ. Forum Lumba-lumba yang diwakili oleh 3 lembaga konservasi (Taman Safari Indonesia I dan II,Gelanggang Samudera Ancol dan Batang Dholpin Center)  ditunjuk oleh  Menteri Kehutanan dan BBKSDA Sumatera Utara untuk menyelamatkan lumba-lumba tersebut dan dikembalikan ke habitat aslinya.

Lebar dari Sungai Wampu ini sekitar 150 m dan pada saat itu kondisi Sungai Wampu sedang meluap, permukaan air naik ± 2 m dikarenakan curah hujan di daerah hulu sangat tinggi. Arus air cukup deras mungkin bisa mencapai 25-30 km/jam. Selain arus sungainya deras juga banyak sampah, bambu dan kayu bekas potongan pohon kelapa sawit yang  hanyut menuju arah laut. Kedalaman Sungai Wampu ini mencapai 5-8 m  dan jarak sungai ditemukan lumba-lumba tersesat  sampai ke laut sejauh 22,45 km. Warga setempat melaporkan bahwa lumba-lumba tersebut ditemukan tersesat mulai hari kamis, 5 September 2013. Artinya pada saat kami datang, lumba-lumba itu sudah hampir satu minggu di perairan Sungai Wampu.

Banyak sekali warga yang datang untuk melihat dan memanfaatkan kejadian  ini  dengan berjualan makanan ringan dan membuka lahan parkir. Selain itu terdapat getek penyeberangan  dan mesin penambang pasir yang nantinya akan menyulitkan proses evakuasi. Di tempat tersebut layaknya ada pertunjukan lumba-lumba, apabila mereka melihat lumba-lumba itu melompat, mereka bertepuk tangan.

         

Gambar. Dolphin yang tersesat dijadikan sebagai wisata murah dan baru

 

Masyarakat didaerah sekitar tidak setuju dengan kedatangan Forum Lumba-lumba karena masyarakat menganggap lumba-lumba yang tersesat tersebut akan ditangkap kemudian dibawa ke jakarta. Masyarakat sekitar menganggap lumba-lumba sebagai satwa yang dimuliakan, apabila ada seekor lumba-lumba yang terjaring nelayan, maka lumba-lumba tersebut akan diberi makan kemudian segera dilepaskan. Tetapi sedikit demi sedikit kami melakukan pendekatan dan memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan  kedatangan Forum Lumba-lumba hanya untuk mengembalikan satwa yang cerdas ini ke laut.

Forum Lumba-lumba juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang lumba-lumba. Lumba-lumba itu bukan ikan, tetapi mamalia laut yang menyusui dan bernafas menggunakan paru-paru sama seperti manusia. Kami juga menjelaskan kepada masyarakat tentang pentingnya penyelamatan satwa liar seperti lumba-lumba ini.

Proses evakuasi lumba-lumba akan di lakukan oleh tim rescue lumba-lumba yang terdiri dari  Forum Lumba-lumba, anggota polisi hutan, anggota BBKSDA Sumatera Utara, Sar Langkat dan KOMPAB (Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam Binjai). Tim rescue lumba-lumba memutuskan apabila lumba-lumba yang tersesat tidak berhasil di tangkap lumba-lumba akan digiring sampai ke laut.

              

Gambar. Proses Rescue

 

Akirnya setelah menggunakan beberapa metode, dari pengusiran dengan menggunakan pelepah daun sawit, jarring hingga metode terakhir yang paling mujarab yakni merusak system sonar dari lumba – lumba ini akhirnya pada tanggal 18 September 2013, lumba – lumba ini mampu kembali lagi ke laut. Harapan kami semoga tidak ada lagi lumba-lumba yang tersesat di Sungai Wampu ini agar tidak menimbulkan masalah sosial bagi masyarakat sekitar. Dan semoga kegiatan kami ini dapat menimbulkan rasa cinta dan peduli terhadap satwa  yang dilindungi seperti lumba-lumba ini.

 

6. Konservasi Dugong (Rescue)

Dugong atau duyung merupakan salah satu mamalia laut hrbivro yang cukup unik dan mendiami wilayah laut dangkal. Pada tahun 2015 ada seekor anak Dugong yang tersesat dan terjebak di sekitaran karang Perairan Bajo, NTT. Team dari TSI yang ditunjuk untuk coordinator lapangan untuk rescue dan relokasi dugong tersebut beranggotakan (Batang Dolphin Center, TSI II Bapak Budi A dan Bali Safari Marine Park).

    

Gambar. Proses pemberian Nutrisi dan Susu bagi Anak dugong

Setelah kurang lebih 2 minggu, Tim kita memberikan susu serta menyembuhkan luka dari anak dugong tersebut. Tim berhasil merelokasi anak dugong tersebut kembali ke tengah dan bertemu dengan kelompoknya.