1. SAPI BALI

Sapi Bali ( Bos sondaicus ) merupakan salah satu bangsa sapi asli Indonesia, beberapa ahli berpendapat bahwa sapi bali merupakan hasil domestikasi Banteng Jawa sehingga merupakan keturunan asli BantengJjawa ( Bos javanicus ) yang telah dilakukan di Indonesia  3.500 SM. Sapi bali juga dikenal dengan nama Balinese cow yang kadang disebut juga dengan Bibos javanicus  meskipun sapi bali bukan satu subgenus dengan bangsa sapi Bos Taurus dan Bos indicus . Berdasarkan silsilah family Bovidae, kedudukan sapi bali diklasifikasikan ke dalam sub genus Bibovine tetapi masih termasuk genus Bos. Pulau Bali dipandang sebagai pusat perkembangan sekaligus pusat bibit sapi bali. )  Sapi Bali memiliki ciri khas yang mudah dibedakan  dari jenis sapi Indonesia lainya adalah adanya warna putih berbentuk oval dibagian bawah ekor yang sering disebut dengan “Mirror” serta warna putih pada keempat kakinya yang mirip dengan kaos kaki, warna putih juga dijumpai pada bagian bibir atas dan bawah, ujung ekor dan ujung telinga.Warna sapi bali jantan dan betina sangat mudah dibedakan, karena mereka termasuk satwa  Dimorphism sex , jantan dan betina memiliki warna yang berbeda. Sapi bali betina dan jantan muda memliki warna merah bata kecoklatan,namun sapi bali jantan akan berubah menjadi hitam setelah berumur 1,5 tahun dan menjadi hitam mulus setelah usia 3 tahun. Tetapi apabila jantan muda dikastrasi, maka warna kulitnya akan tetap merah bata akibat berkurangnya hormon testoteron.

Performance umum sapi bali saat ini menyerupai banteng tetapi ukuran tubuhnya lebih kecil akibat proses domestikasi, Secara umum ukuran sapi bali termasuk kategori sedang dengan bentuk badan memanjang, dada dalam, badan padat dengan perdagingan yang kompak, kepala agak pendek, telinga berdiri, dan dahi datar. Ukuran tanduk sapi bali betina ukuranya lebih kecil jika dibandingkan dengan yang jantan, dengan panjang tanduk jantan antara 25cm – 30 cm, dengan jarak ujung tanduk antara 45 cm – 65 cm. Sapi bali jantan dan betina tidak memiliki gumba. Sapi bali memliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat, selain penghasil daging, juga dimanfaatkan sebagai ternak kerja,penghasil pupuk dan tabungan.

2. BANTENG JAWA

Berbeda dengan sapi bali nasib Banteng jawa ( Bos javanicus ) yang dianggap sebagai nenek moyang sapi bali, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan,oleh IUCN pada tahun 1978 banteng dikategorikan Vulnerable atau rawan,oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian terhadap populasi, habitat, penyebaran dan perilaku banteng. Kenyataan saat ini dari tahun ketahun populasi banteng dialam memiliki kecenderungan menurun, di Jawa mereka terkonsentrasi di Taman Nasional Ujungkulon dan Taman Nasional Meru betiri,Taman Nasional Baluran, dan Taman Nasional Alas Purwo. Berdasarkan data pengamatan banteng jawa di Jawa Timur tahun 2002 – 2006 terjadi penurunan drastis, data   tahun 2002 populasi banteng jawa tersisa  81 – 115 ekor.

Beberapa faktor yang mengakibatkan turunya populasi banteng di alam adalah  :

Faktor ketersediaan air

Faktor perubahan habitat

Faktor perburuan liar

Faktor predator alami

Dalam hal ini Taman Safari Indonesia II  Prigen juga secara aktif berkontribusi dalam koservasi banteng jawa. Salah satu bukti nyata kegiatan yang sudah dilakukan adalah Rescue banteng jawa yang keluar dari habitat  atau masuk kedalam pemukiman atau perkebunan. Dari 6 betina dan 1 Pejantan (2006). Saat ini TSI II telah berhasil mengembangbiakan banteng jawa secara ex situ dan populasinya juga banyak.

3. PEMULIABIAKAN SAPI BALI

Saat ini melalui kebijakan pemerintah menetapkan propinsi Bali sebagai daerah yang diproteksi bagi masuknya sapi bangsa lain untuk pelestarian sapi bali sangat beralasan  mengingat Indonesia merupakan pusat gen sapi bali dan tempat pertama kali proses domestikasi sapi tersebut.  Berdasarkan referensi tentang sapi bali, disebutkan bahwa bentuk tubuhya sapi bali mirip dengan banteng jawa, tetapi ukuran tubuhnya lebih kecil akibat proses domestikasi serta akibat rendahnya keragaman genetic akibat in breeding sebagai konsekuensi minimnya pejantan unggul yang merupakan darah baru. Secara ukuran tubuh sapi bali tergolong sapi ukuran sedang. Keberhasilan TSI II menangkarkan banteng jawa secara ex situ  ternyata menarik perhatian pihak Taman Nasional Merubetiri dan  Taman Nasional Baluran untuk melakukan studi banding ke TSI II,guna melihat karakter dan performance banteng jawa, bukan hanya itu , pihak Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya juga sudah melakukan serangkaian penelitian terhadap banteng jawa yang berada di TSI II.

Potensi banteng jawa di TSI II prigen akhirnya terdengar oleh gubernur Jawa Timur Bapak Soekarwo yang lebih akrab disapa Pakde karwo, berinisiatif melakukan kegiatan pemuliabiakan sapi bali dengan cara mengawinkan dengan banteng jawa. Program pemuliabiakan sapi bali  ini dilakukan di TSI II. Pemilihan banteng jawa sebagai pemacek didasarkan atas pemikiran :

- Banteng jawa adalah nenek moyang sapi bali

- Banteng jawa memiliki  performance  yang lebih baik dibandingkan dengan sapi bali sekarang.

- Banteng jawa memiliki daya cerna yang lebih baik karena mampu mencerna pakan dengan kualitas rendah.

- Banteng jawa merupakan satwa salah satu satwa endemik jawa timur.

- Banteng jawa terbukti sebagi satwa yang mampu beradaptasi  didaerah iklim tropis.

- Banteng jawa terbukti sebagi satwa mampu bertahan terhadap penyakit tropis.

Proyek tersebut merupakan kerjasama TSI II dan Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur, yang bertujuan untuk mendapatkan keturunan sapi bali yang memiliki kualitas lebih baik dengan cara mengawinkan dengan banteng jantan. Hal tersebut sejalan dengan program pemerintah untuk mewujudkan PSDSK 2014 (Program Swadaya Daging Sapid an Kerbau) . Hasil anakan sapi bali dan banteng jawa  yang berjenis kelamin  jantan, nantinya  apabila sudah dewasa akan dilakukan serangkaian penelitian dan dimanfaatkan sebagai pemacek melalui program Inseminasi Buatan, sehingga diharapkan sebagi bibit alternative yang mampu bersaing secara kualitas dan kuantitas untuk jenis sapi tropis, khususnya di Indonesia. Program pemuliabiakan sapi bali hasil kerjasama TSI dan Dinas Peternakan Jawa Timur tersebut  dilaksanakan di TSI II, diawali dengan pembuatan kandang dan paddock, selanjutnya pada tanggal 20 April 2011 di datangkan 10 ekor sapi bali betina  ke TSI II ,dan TSI II menempatkan seekor banteng jantan dewasa hasil penangkaran TSI II (matos kelahiran 8 november 2006) ke dalam kandang Pemuliabiakan sapi bali.

   

Setelah melaui proses adaptasi maka proses penggabungan sapi bali dan banteng jantan mulai dilaksanakan. Beberapa kendala yang ditemui adalah beberapa sapi bali betina tersebut  mengalami gangguan reproduksi,sehingga perlu dilakukan terapi hormonal. Dan akhirnya proses perkawinan secara alami terjadi. Dari 10 ekor betina sapi bali, sekarang sudah 8 ekor bunting dan pada tanggal 5 april 2012 telah lahir anak jantan dari perkawinan banteng ( matos 6 th) dan sapi bali (kemi 4 th) dengan berat lahir 21 kg dan panjang badan 45 cm (diukur dari pangkal ekor sampai  procecus scapula), lingkar dada  67 Cm, tinggi badan 72 Cm (diukur dari kuku sampai gumba). Kelahiran berikutnya secara berurutan pada tanggal 8 mei 2012 dari induk nunung ( 4 tahun) dengan berat lahir 18 Kg, kemudian tanggal 11 mei 2012 dari induk dewi ( 4 tahun) dengan berat lahir 21 Kg, selanjutnya induk fitri (4 tahun ) yang melahirkan anaknya pada tanggal 13 mei 2012 dengan berat lahir 18 Kg.

   

Hasil anakan antara perkawinan banteng(jantan) dan sapi bali (betina) dinamakan JALITENG. Jaliteng merupakan singkatan dari Jawa Timur Bali Banteng. Selanjutnya anakan Sapi Bali dan Banteng Jawa tersebut akan dilakukan penelitian lebih intensif lagi untuk mengetahui pertambahan berat badandan ukuran tubuh  samapai usia dewasa , berat sapih,pengambilan darah untuk uji DNA, Daya cerna, Kulaitas semen dll. Keberhasilan pemuliabiakan sapi bali dengan mengawinkan banteng jawa diharapkan sebagai terobosan genetika masa depan untuk peningkatan kualitas  sapi bali.